Arsitek Narasi

Arsitek Narasi Strategis untuk Pemimpin Industri.

Perusahaan Anda memiliki data, tetapi apakah ia memiliki jiwa? Kami mengekstraksi sejarah perusahaan Anda dan merancangnya menjadi warisan narasi yang abadi.

The Paradigm

Di dunia bisnis yang bising dan dipenuhi data dingin, narasi Anda adalah api hangatnya. Mering Legacy Studio tidak merakit buku sebagai komoditas, melainkan merancang instrumen prestise dan makna.

Alexander Mering Founder & Narrative Architect
Alexander Mering - Founder

We Offer Best Services

Soul Mining

Archeological excavation uncovering raw, authentic leadership core and corporate truths.

Strategic Architecture

Engineering profound plot blueprints to align historic truth with business.

Media Deployment

Transmuting uncovered histories into premium masterpiece books and cinema documentaries.

Legacy Activation

Embedding timeless corporate narratives into organizational culture and global reputation.

In 3 Strategic Steps

Choose Destination

Define your architectural vision and identify the buried historical truths of your empire.

Make Payment

Initiate your premium investment to secure elite positioning across global media platforms.

Reach Airport on Selected Date

Deploy your masterpiece transmedia assets to claim your rightful place in history.

The Corporate Manifesto

The Corporate Manifesto

Completed in 3-6 Months | by Alexander Mering
1 Enduring Masterpiece

Karaoke Nyaman di Hutan Sempadan

By: A. Alexander Mering

Anda mungkin baru mendengar ada karaoke nyaman di tengah hutan. Tapi bagi warga perbatasan Lubuk Antu, Sarawak-Malaysia dan Warga Badau Kapuas Hulu hal itu sudah jamak atau lumrah.
Hutan sempadan hanya berjarak sekitar 700 meter dari Lubuk Antu atau 1 km dari Badau. Ada sebuah persinggahan yang dikenal dengan nama Rumah Nyaman atau Karaoke Nyaman di sana.
Tembang lawas “Anggur merah” miliknya Meggi Z lebih mirip suara rombengan kaleng yang dipukul untuk mengusir anjing dari rumah ketika dinyanyikan seorang pria separo mabok dengan muka merah setelah menenggak bir.
Saya yang duduk di pojok berusaha menghindar ketika lelaki tersebut dalam bahasa bahasa Iban yang bercampur bahasa Inggris, berbasa basi menyodorkan sebotol bir dan minta ditemani minum. Menurut pelayan cewek yang sejak tadi menemaninya, lelaki itu sudah menegak tidak kurang dari 4 botol bir.
Julie, 19, demikian—pelayan itu mengenalkan diri—mengatakan lelaki itu adalah warga Malaysia yang memang setiap ujung minggu datang bertandang. Ia royal dengan membagi-bagi Ringgit untuk berkencan dan minum-minum sepuasnya sambil berkaraoke.
“Makanya ia sudah hafal betul puluhan lagu dangdut Indon,” ujar Julie sambil tersenyum menggoda. Indon adalah sebutan untuk Indonesia oleh orang Malaysia. Julie mengira saya salah seorang tauke Indon.
Selain menghambur-hamburkan uangnya, lelaki itu juga kerap mem-booking pelayan karaoke atau dalam istilah setempat disebut GRO untuk dibawa ke hotel-hotel di Malaysia sebagai pemuas syahwat.
Kata Julie, itulah cara termudah bagi pelayan karaoke seperti dirinya meraup Ringgit dari kantong lelaki Malaysia.
Meskipun saya pernah melewati kawasan tersebut saat mengikuti kunjungan Tim DPR-RI dari Jakarta ke Kecamatan Badau, 19 Juni 2001 lalu, namun baru kali ini bisa memantau lebih dekat kehidupan masyarakat dan para GRO di sempadan yang dilewati jalan-jalan tikus tempat keluar-masuknya warga kedua negara.
Ketika saya berbincang-bincang dengan beberapa warga di hotel Kelingkang, Lubuk Antu, malam sebelumnya dapat disimpulkan masyarakat Lubuk Antu sudah lama mengenal kawasan sempadan sebagai ‘surga’ para penyelundup melalui jalan tikus sekaligus merupakan kawasan tempat hiburan mesum. Lubuk Antu jadi tak seseram namanya. Ia menjadi tujuan utama para pengunjung baik dari Indonesia maupun Malaysia.
Untuk sampai ke Rumah Nyaman? Oya, kita hanya memerlukan waktu 45 menit saja dari Lubuk Antu dengan menggunakan mobil atau sepeda motor. Jalan yang agak terjal dan menuruni bukit membuat sopir lori (kendaraan untuk mengangkut sawit) yang memandu saya ke sana harus ekstra hati-hati. Apalagi jalannya sangat licin didera hujan lebat hingga kamera dan film yang dibawa pun turut basah dan rusak.
Oleh masyarakat setempat, Lubuk Antu dan sempadan juga dikenal sebagai ‘tiket’ masuk ke Indonesia. Demikian juga sebaliknya. Jadi jangan heran banyak mobil berplat Malaysia lalu-lalang di Kecamatan Badau dan sekitarnya. Kebanyakan mereka adalah tauke-tauke yang sedang berbisnis kayu dengan warga Indonesia. Bahkan sejak kunjungan saya 2001 lalu hingga sekarang masih berderet sawmil-sawmill kayu di sepanjang perbatasan.
Bila ditelusuri: cukongnya warga Malaysia sedangkan orang Indonesia hanya menjadi kaki tangan atau kulinya saja. Para cukong kayu itulah terkadang yang datang ke Rumah Nyaman di sempadan untuk melepas penat sambil indehoi bersama Guiset Relations Officer (GRO). Apalagi tempat pelacuran bekedok karaoke itu letaknya sangat strategis dan merupakan penghubung jalan tikus bagi mereka yang keluar masuk ke Jiran.
Menghadapi hal itu, pemerintah Malaysia sendiri telah menyerukan agar warganya, khususnya Lubuk Antu untuk tidak terlibat dengan kegiatan pelacuran di kawasan tersebut. Sebagaimana dikatakan pemangku Ketua Polis Daerah Lubuk Antu Chief Inpektor Bakar Sebau yang dirilis harian berbahasa melayu setempat, pihaknya akan melakukan pengawasan di lima jalur utama yang menuju ke Rumah Nyaman tersebut. Namun untuk bertindak terlalu jauh tentu ia tidak bisa karena kawasan tersebut sudah di luar wilayah kewenangannya.
Sementara itu Kapolda Kalbar, Brigjen Pol Drs Iwan Pandjiwinata melalui Kadispen Polda Kalbar, Kompol Suhadi SW mengatakan bahwa untuk kegiatan pelacuran di perbatasan adalah urusan Pemkab setempat. “Jika ingin kawasan tersebut betul-betul bersih tentu ditertibkan, Polri siap membantu jika dimintai bantuan,” ujar Suhadi.*

Catatan: Pernah diterbitkan di Harian Equator, Jawa Post Media Group, tahun 2002

What People Say About Us.

"On the Windows talking painted pasture yet its express parties use. Sure last upon he same as knew next. Of believed or diverted no."

Mike Taylor
Mike Taylor
Lahore, Pakistan

"Mering made our family trip to Europe absolutely magical! Every detail was perfectly planned. I could not believe how seamless the entire experience was from booking to arrival."

Sarah Johnson
Sarah Johnson
New York, USA

"The best travel agency I have ever worked with. Professional, responsive, and they truly understand what makes a trip unforgettable. Highly recommend to everyone!"

Chris Thomas
Chris Thomas
Artistic Vision Documentation
Select Language