Arsitek Narasi

Arsitek Narasi Strategis untuk Pemimpin Industri.

Perusahaan Anda memiliki data, tetapi apakah ia memiliki jiwa? Kami mengekstraksi sejarah perusahaan Anda dan merancangnya menjadi warisan narasi yang abadi.

The Paradigm

Di dunia bisnis yang bising dan dipenuhi data dingin, narasi Anda adalah api hangatnya. Mering Legacy Studio tidak merakit buku sebagai komoditas, melainkan merancang instrumen prestise dan makna.

Alexander Mering Founder & Narrative Architect
Alexander Mering - Founder

We Offer Best Services

Soul Mining

Archeological excavation uncovering raw, authentic leadership core and corporate truths.

Strategic Architecture

Engineering profound plot blueprints to align historic truth with business.

Media Deployment

Transmuting uncovered histories into premium masterpiece books and cinema documentaries.

Legacy Activation

Embedding timeless corporate narratives into organizational culture and global reputation.

In 3 Strategic Steps

Choose Destination

Define your architectural vision and identify the buried historical truths of your empire.

Make Payment

Initiate your premium investment to secure elite positioning across global media platforms.

Reach Airport on Selected Date

Deploy your masterpiece transmedia assets to claim your rightful place in history.

The Corporate Manifesto

The Corporate Manifesto

Completed in 3-6 Months | by Alexander Mering
1 Enduring Masterpiece

Tiga Jam di KLIA

Sebuah Catatan (1)

by A. Alexander Mering

KLIA-Di Kuala Lumpur International Airport seorang balita sibuk menggigit benang yang menjuntai-juntai dari koper ayahnya. Mereka duduk di kursi tunggu, tak jauh dariku. Sang bocah sesekali mencuri padang. Aku cuma bisa memberinya senyuman kecut.
Di kursi deretan depan seorang Sami Budha berkacamata dengan jubah serba kuning tanah menoleh ke belakang, sebelum menutup laptop. Dia, pantatnya dan pergi. Lagi-lagi aku hanya bisa memberinya senyuman kecut.
Telingaku masih terasa pekak setelah dihajar grafitasi, ketinggian pesawat Air Asia yang mengantarkan aku ke tempat ini. Jadi masih tak jelas apa yang diucapkan para penumpang yang berjejal di ruang tunggu ini.
Ohya, saat makan nasi lemak di kedai tak jauh dari ruang tunggu tadi, telingaku samar-samar menangkap percakapan 5 lelaki dan perempuan dalam bahasa Jawa yang aku fahami. Matanya sipit semua. Jelas mereka warga keturunan Tionghoa. Sungguh dahsyat Orde Baru ternyata, hingga jejaknya pun tercecer di luar negeri? Dari apa yang mereka percakapkan aku menduga mereka dari Jakarta.
Coklat yang kukunyah perlahan--sambil menanti keberangkatan selanjutnya ke Bangkok--sedikit mengurangi dengingan di telingaku yang terasa bolot. Mataku mencari-cari, siapa tahu ada wajah yang kukenal di sekitar seni. Sangat sunyi rasanya tanpa teman di tempat terasing seperti ini.
Jam di tangan baru menunjukkan pukul 2.26 PM, waktu Indonesia. Berarti di sini pukul 3.26 PM waktu Malaysia. Karena waktu Indonesia dan Malaysia selisih satu jam. Sedangkan pesawat yang kutumpangi ke Bangkok baru akan berangkat 5.25 waktu Malaysia. Puih! Masih lama sekali. Maka kulumat coklat lagi untuk membunuh rasa jenuh dan kesepian.

***
Seorang wanita kulit putih melintas, menyeret-nyeret koper abu-abunya membelah keramaian. Rambut peraknya meriap-riap memperlihatkan cuping telinga kemerah-merahan. Mungkin dia terlalu banyak berjemur di bawah matahari Asia.
Eh...., eh...dia menoleh ke arahku pula! Aduh..., aku gugup dan gelagapan. Busyet cantik juga bule ini. Aku memasang senyum paling keren menutup gugup. Tapi taik kucinglah! Ini airport bung! Tempat orang lalu-lalang tanpa ada yang peduli. Terkadang aku berpikir, apa bedanya sebuah air port dengan negeri dongeng? Dimana orang sama-sama datang dan pergi dari dan ke sebuah tempat yang entah di mana. Dia mengangguk tapi terus menghilang ke balik orang-orang.
Perasaan yang bertumbuk-tumbuk dalam diri membuatku kebelet ingin ke toilet. Opps! Seorang polisi wanita tiba-tiba nongol di pintu, di samping kiri ruangan yang hanya berjarak 10 langkah dari tempatku duduk. Topi biru tua yang menutup tudung (kerudung)-nya membuat penampilannya terasa aneh di mataku yang Indonesia.
“Inilah topi yang membuat ciut nyali banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negeri bekas jajahan Inggris ini,” pikirku coba melucu.
Aku meletakkan kembali pantat di kursi. Bukan karena takut, tapi ingin mengamati apa yang dilakukan ’polwan' Melayu itu. Karena dua polisi lelaki mendekatinya, mereka berbincang dan bergegas menuju arah luar bandara. Entah apa yang terjadi di luar sana, aku mulai merasa lelah dan mengantuk.

What People Say About Us.

"On the Windows talking painted pasture yet its express parties use. Sure last upon he same as knew next. Of believed or diverted no."

Mike Taylor
Mike Taylor
Lahore, Pakistan

"Mering made our family trip to Europe absolutely magical! Every detail was perfectly planned. I could not believe how seamless the entire experience was from booking to arrival."

Sarah Johnson
Sarah Johnson
New York, USA

"The best travel agency I have ever worked with. Professional, responsive, and they truly understand what makes a trip unforgettable. Highly recommend to everyone!"

Chris Thomas
Chris Thomas
Artistic Vision Documentation
Select Language