Arsitek Narasi

Arsitek Narasi Strategis untuk Pemimpin Industri.

Perusahaan Anda memiliki data, tetapi apakah ia memiliki jiwa? Kami mengekstraksi sejarah perusahaan Anda dan merancangnya menjadi warisan narasi yang abadi.

The Paradigm

Di dunia bisnis yang bising dan dipenuhi data dingin, narasi Anda adalah api hangatnya. Mering Legacy Studio tidak merakit buku sebagai komoditas, melainkan merancang instrumen prestise dan makna.

Alexander Mering Founder & Narrative Architect
Alexander Mering - Founder

We Offer Best Services

Soul Mining

Archeological excavation uncovering raw, authentic leadership core and corporate truths.

Strategic Architecture

Engineering profound plot blueprints to align historic truth with business.

Media Deployment

Transmuting uncovered histories into premium masterpiece books and cinema documentaries.

Legacy Activation

Embedding timeless corporate narratives into organizational culture and global reputation.

In 3 Strategic Steps

Choose Destination

Define your architectural vision and identify the buried historical truths of your empire.

Make Payment

Initiate your premium investment to secure elite positioning across global media platforms.

Reach Airport on Selected Date

Deploy your masterpiece transmedia assets to claim your rightful place in history.

The Corporate Manifesto

The Corporate Manifesto

Completed in 3-6 Months | by Alexander Mering
1 Enduring Masterpiece

Migrasi Laptop dan Secanting Beras

by A.Alexander Mering

Pertemuan saya dengan Anika Koeniq berikutnya di Orchadz Hotel dalam sebuah acara launching buku membuat saya terus tersenyum-senyum hingga tadi malam. Bukan karena Antropolog muda itu seorang wanita yang cantik, tetapi ini gara-gara dia mengirimkan Romo Baskoro T Wardaya secanting beras.
“Beras ini dari hasil ladang, saya sendiri yang memanennya..,” terang Anika bersungguh-sungguh.
Saya melongo. “Oh..ya? Waw....".
Ingatan saya tiba-tiba melayang ke pertemuan saya dengan Kristianus Atok, beberapa hari lalu, di rumah Yohanes Supriyadi. Kristianus Atok bilang akan mengirim laptop untuk adiknya di Jogja via HenTakun. Nah, hari ini pula Anika mengirimkan beras via orang yang sama untuk Romo Bas di sana. Kebetulan HenTakun memang akan berangkat ke Jogja untuk sebuah urusan, 19 Mei ini.
Sebetulnya tak ada yang istimewa dari dua peristiwa ini. Tapi entah mengapa saya menjadi begitu tergelitik memikirkannya sejak kemarin.
Bagi saya bukan persoalan barang itu akan dikirim ke mana atau untuk siapa? Tetapi eksistensi symbol kedua benda tersebut sebagai pengejawantahan sebuah nilai yang diwakilinya.
Beras umumnya representasi dari sebuah negara atau budaya agraris. Sedangkan Laptop adalah simbol untuk modernisasi dan teknologi. Keduanya merupakan ikon dari budaya dan zaman yang melahirkannya.
Yang satu sangat dekat dengan sifat-sifat masyarakat tradisional yang agraris sedangkan yang lain justru produk teknologi canggih era digital.
Beras yang dikantongi Anika untuk Romo Bas ini (sebenarnya lebih dari secanting), bukanlah beras sembarang beras, tapi beras kampung yang dipetik dari sebuah ladang terpencil di Menjalin. Ladang, beras dan kampung nyaris tak terpisahkan. Kampung Bolat boleh jadi representasi dari nilai kampung yang masih tradisional tadi, setelah 63 tahun Indonesia merdeka Bolat masih belum tesentuh aliran listrik PLN. Sejak tinggal disana Anika tak bisa menelpon, membuka atau mengirim email.
"Kalau mau kirim email, saya harus ke Pontianak," katanya suatu hari.
Antara laptop dan beras adalah dua hal yang sangat kontras bagi saya. Unikanya, yang mengirim beras—ikon tradisional—itu justru seorang wanita Jerman, negara Johannes Guttenberg, penemu mesin cetak. Salah satu tempat dimana teknologi dan ilmu pengetahuan modern di lahirkan.
Sebaliknya Kristianus Atok, putra kampung Nangka, justru mengirim laptop. Bahkan Alan Kay dari Xerox Palo Alto Research Center yang mengenalkan konsep laptop berupa komputer jinjing (Dynabook)tahun 1979-an ini pun mungkin tak menyangka temuannya tersebut bisa sampai ke sebuah Kampung di Kecamatan Menjalin. Tapi tentu saja Kristianus Atok bukan orang kampung biasa lagi, dia kini tengah menyelesaikan program S3-nya di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), Kuala Lumpur.
Saya sungguh tercengang ketika memikirkannya, memikirkan kedua kutub nilai itu sama-sama bergerak, serentak, dalam arus yang sama, dari perut Borneo menuju ke sebuah tempat yang bernama Jogja.

What People Say About Us.

"On the Windows talking painted pasture yet its express parties use. Sure last upon he same as knew next. Of believed or diverted no."

Mike Taylor
Mike Taylor
Lahore, Pakistan

"Mering made our family trip to Europe absolutely magical! Every detail was perfectly planned. I could not believe how seamless the entire experience was from booking to arrival."

Sarah Johnson
Sarah Johnson
New York, USA

"The best travel agency I have ever worked with. Professional, responsive, and they truly understand what makes a trip unforgettable. Highly recommend to everyone!"

Chris Thomas
Chris Thomas
Artistic Vision Documentation
Select Language