Arsitek Narasi

Arsitek Narasi Strategis untuk Pemimpin Industri.

Perusahaan Anda memiliki data, tetapi apakah ia memiliki jiwa? Kami mengekstraksi sejarah perusahaan Anda dan merancangnya menjadi warisan narasi yang abadi.

The Paradigm

Di dunia bisnis yang bising dan dipenuhi data dingin, narasi Anda adalah api hangatnya. Mering Legacy Studio tidak merakit buku sebagai komoditas, melainkan merancang instrumen prestise dan makna.

Alexander Mering Founder & Narrative Architect
Alexander Mering - Founder

We Offer Best Services

Soul Mining

Archeological excavation uncovering raw, authentic leadership core and corporate truths.

Strategic Architecture

Engineering profound plot blueprints to align historic truth with business.

Media Deployment

Transmuting uncovered histories into premium masterpiece books and cinema documentaries.

Legacy Activation

Embedding timeless corporate narratives into organizational culture and global reputation.

In 3 Strategic Steps

Choose Destination

Define your architectural vision and identify the buried historical truths of your empire.

Make Payment

Initiate your premium investment to secure elite positioning across global media platforms.

Reach Airport on Selected Date

Deploy your masterpiece transmedia assets to claim your rightful place in history.

The Corporate Manifesto

The Corporate Manifesto

Completed in 3-6 Months | by Alexander Mering
1 Enduring Masterpiece

Salip Kayu dari Vanessa

Oleh: A. Alexander Mering

Sore itu Vanessa V Andico pergi ke toko. Dia membeli sesuatu. Aku membeli beberapa botol minuman dan biskuit untuk Mohammad. Dia sering mengeluh lapar jika tengah malam. Setelah membayar kami berpisah di mulut labirin yang memisahkan bangunan utama dengan asrama.
Vanessa masih muda dan dan gadis yang ramah. Dia adalah salah satu member Silsilah Dialoge Movement. Sebelumya pernah mengikuti basic course, karena itu berhak mengikuti intensive program bersama kami.
Orangnya selalu tampil tenang dan menunjukan minat pada banyak hal. Di hari pertama di Zamboanga, Vanessa mendapat tugas dari Silsilah menjadi guide-ku ke camp site di atas bukit, tempat mereka menggelar Youth Camp musim panas.
Malam penutupan intensive course di Silsilah, Vannesa memberiku kalung salip kecil dari kayu. Aku sangat senang tentu saja.
“Oh, rupanya ini yang engkau beli kemarin?”
“Ya, ini adalah sebuah tradisi di Silsilah, saling memberikan hadiah”.
Wah gawat! Aku lantas izin sekejab. Secepat kilat berlari ke kamar mencoba temukan sesuatu untuk dihadiahkan, karena aku benar-benar tak siap dan tak mengira ada acara begini. Mereka menyebutnya peace buddy.
Sebelumnya nama-nama kami dikocok di sebuah tabung lantas diundi oleh panitia. Nah, nama yang tertera di kertas undian itulah yang akan menjadi peace buddy resmi tiap peserta kelak. Peace buddy-ku sendiri bukan Vanessa, tetapi Abubacar A. Ali. Dia orang Bangon, Marawi City, sebuah kota yang berjarak 10 jam naik bus dari kota Zamboanga. Aku menghadiakan shebo kesayanganku yang pernah kubawa ke liling Borneo. Aku tidak punya apa-apa selain itu untuk dihadiahkan.
“Harap Anda menjaganya dengan baik,” kataku pada Abubacar. Kami berpelukan, dan foto-foto. Abu memberikan hadiah lain pada peace buddy-nya, dan seterusnya dan seterusnya. Sehingga setiap orang dalam satu ruangan yang terdiri dari berbagai suku bangsa itu mendapat giliran menerima dan memberi. Semua orang saling memeluk, dan berjanji saling mengenang.
Ada insiden lucu malam itu. Joel T Alegado memberikan hadiah kepada peace buddy-nya, Mohammad. Bingkisannya istimewa, itu bisa dilihat dari bungkusnya. Joel adalah ibu muda berpenampilan lembut. Dia memberikan bingkisan itu sambil mencurahkan seluruh perasaannya pada Mohammad. Karena itu dia berpidato panjang untuk itu. Setelah sekitar 10 menit. Setelah usai lantas dia bertanya pada Mohammad.
“By the way. Do you understand what I am talking about?”
“No…,”
“What…? Oh my God..!”
Wajah Joel bersemu merah. Salah tingkah juga bercampur geram. Padahal dia sudah berpidato dengan sangat indah. Tak pelak, ruangan kelas pun seperti akan pecah oleh tawa peserta.
Begitulah cara Silsilah menanamkan rasa persaudaraan antara kepercayaan dan etnik yang berbeda di Zamboanga. Di luar acara seremoni kelas kami masih tukar-menukar hadiah. Aku mendapat banyak sekali hadiah, souvenir, barang-barang kecil, baju kaos. Seorang suster bahkan menghadiahkan saputangannya untukku membungkus lensa kamera.
Meski banyak cerita buruk tentang Philipina dan warganya di luar sana, tetapi aku seakan bertemu saudara sendiri di Manila dan Zamboanga. Hanya kebiasaan mereka makan cuka dan bahasa saja yang berbeda, tetapi adat budaya, tidaklah terlalu jauh meleset.
Di Manila, peace buddy-ku bertambah lagi. Dua hari menjelang kepulangan ke tanah air, pastor-pastor dari beberapa gereja di kota itu mengundang aku dan Mohammad makan siang.
Akibatnya, setiap siang aku dan Mohammad menghilang. Kepada Raul Ortega aku minta maaf tak dapat menemaninya makan bersama keluarganya di siang hari karena memenuhi undangan tersebut. Raul Ortega adalah pemilik rumah tempat kami menginap selama di Manila.
“Wah Mering, kita makan dari gereja ke gereja ni,” kata Mohammad.
“Begitulah jika kita memiliki banyak peace buddy?”
Akibatnya, hampir sebagian besar kota Manila kami kelilingi. Bahkan undangan salah seorang calon pastor di Ateneo de Manila University terpaksa tak terpenuhi. Karena sudah harus pulang ke Indonesia.
Satu hal yang tak terelakan dari kebaikan, yaitu kebaikan berikutnya yang berantai dan menjadi sebuah energy besar di dunia ini meski pun mungkin sedikit sekali yang mengingatnya. (publish in Borneo Tribune, 5 Juni 2009)

PEACE BUDDY
Sebuah tradisi Silsilah adalah peace buddy, yaitu tukar menukar hadiah antara sesama peserta, sebagai kenang-kenangan setelah mereka pulang ke Negara atau kampung masing-masing kelak. FOTO A. Alexander Mering/Borneo Tribune


What People Say About Us.

"On the Windows talking painted pasture yet its express parties use. Sure last upon he same as knew next. Of believed or diverted no."

Mike Taylor
Mike Taylor
Lahore, Pakistan

"Mering made our family trip to Europe absolutely magical! Every detail was perfectly planned. I could not believe how seamless the entire experience was from booking to arrival."

Sarah Johnson
Sarah Johnson
New York, USA

"The best travel agency I have ever worked with. Professional, responsive, and they truly understand what makes a trip unforgettable. Highly recommend to everyone!"

Chris Thomas
Chris Thomas
Artistic Vision Documentation
Select Language