Arsitek Narasi

Arsitek Narasi Strategis untuk Pemimpin Industri.

Perusahaan Anda memiliki data, tetapi apakah ia memiliki jiwa? Kami mengekstraksi sejarah perusahaan Anda dan merancangnya menjadi warisan narasi yang abadi.

The Paradigm

Di dunia bisnis yang bising dan dipenuhi data dingin, narasi Anda adalah api hangatnya. Mering Legacy Studio tidak merakit buku sebagai komoditas, melainkan merancang instrumen prestise dan makna.

Alexander Mering Founder & Narrative Architect
Alexander Mering - Founder

We Offer Best Services

Soul Mining

Archeological excavation uncovering raw, authentic leadership core and corporate truths.

Strategic Architecture

Engineering profound plot blueprints to align historic truth with business.

Media Deployment

Transmuting uncovered histories into premium masterpiece books and cinema documentaries.

Legacy Activation

Embedding timeless corporate narratives into organizational culture and global reputation.

In 3 Strategic Steps

Choose Destination

Define your architectural vision and identify the buried historical truths of your empire.

Make Payment

Initiate your premium investment to secure elite positioning across global media platforms.

Reach Airport on Selected Date

Deploy your masterpiece transmedia assets to claim your rightful place in history.

The Corporate Manifesto

The Corporate Manifesto

Completed in 3-6 Months | by Alexander Mering
1 Enduring Masterpiece

Buaya Pontianak, Mejeng di Sarawak

Buaya  di Crocodile Farm Jong melakukan atraksi  saat makan siang. Lompatannya memberi sebuah sensasi bagi para turis  haus ketegangan. FOTO A. Alexander Mering 
Catatan Lawatan Pariwisata ke Sarawak (1)

Oleh: A. Alexander Mering

Jika buaya di Sungai Mempawah  atau Sungai Kapuas yang membelah Kalimantan Barat hampir punah karena diburu dan sebagian ‘dipecundangi’ pawang, tidak demikian halnya dengan keluarga reptilia itu di Crododile Farm Jong, Sarawak Malaysia.
Buaya-buaya itu justru dipelihara dan dilatih menari guna mengorek kocek para turis yang datang ke sana. Termasuk saya yang diundang oleh Tourism Board Sarawak Malaysia akhir bulan lepas. 
Tau ndak pak, buaya itam, paling depan tu buaye kite dari Pontianak!” Kata saya agak jengkel kepada keluaga Tionghoa yang terkagum-kagum memandang buaya sebesar perahu itu berbaring diam.
Pemilik penangkaran memang memasang sebuah papan asal usul buaya  tersebut di dalam pagar. Ia diletakan paling depan, di lorong masuk pertama penangkaran yang menampung lebih dari 1000 buaya.
Lalu aku minta Guide kami, Matthew bercerita. Dia adalah orang Iban yang ramah, mengoceh dengan senang hati dalam bahasa Inggris campur Melayu yang lucu di telinga.
Lebih dari 30 tahun silam, Kian Yong Sen, penyayang binatang dan konservasionis bertemu seorang Indonesia yang menjual buaya muara muda (crocodlylus porosus). Tanpa banyak cingcongYong langsung memborong 6 ekor reptil itu untuk koleksinya. Dia sendiri sudah banyak piaraan, mulai dari kambing hingga ayam dan hewan lainnya.

Rupanya setelah memperoleh 6 bayi buaya pertama tahun 1963, Yong makin tertarik pada reptil. Dia pun memutuskan membudidayakan mereka. Keputusannya dibuat lebih mudah karena Marvin dan Johnson, anaknya juga penggemar satwa liar seperti dirinya. Sejak saat itu hobi Yong sekeluarga kepada reptile ini  dikenal di seantero Sarawak.

Pada tahun 1964 Yong
membeli 19 bayi buaya lain.   Dengan demikian koleksi Yong menjadi 25. Semua reptil disimpan dalam kolam sekitar 1 hektar, milik keluarga di Jalan Chawan di Kuching.

Tahun 1979, keluarga Yong  memperoleh  tanah dua hektar setengah di Siburan, sekitar 18 km dari Kuching. Tapi  masih dirasa terlalu kecil untuk pembibitan. Selama periode ini, ratusan telur diletakkan tapi sayangnya tidak satupun  yang menetas.
Yong mengunjungi desa-desa di sekitar, untuk melakukan studi lebih lanjut tentang kebiasaan peternakan buaya.  Tahun 1981 Yong membuat terobosan. Pada 30 Mei 1981 bayi buaya pertama mereka lahir dari 20 telur. Sementara itu, Johnson terus menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk penelitian tentang kebiasaan para buaya dipenangkarannya.

Setelah bertahun-tahun trial and error, Johnson akhirnya merancang inkubatornya sendiri berdasarkan data yang ia dikumpulkan
. Tahun 1983 inkubatornya pertamanya berhasil dibuat walau masih kasar dari bahan kayu lapis.  

Pada tahun 1998, Crocodile Farm Jong pindah
ke tanah 25 hektar. Saat itu telah lebih dari 500 buaya berkembang biak dalam kolam besar mereka. Tempat itu  adalah penangkaran pertama dan peternakan buaya terbesar di Malaysia.  Yong berharap peternakannya dapat memainkan peran utama dalam konservasi spesies buaya.

Wajar saja kalau saat ini mereka tidak memiliki peternakan buaya tertua di Malaysia tetapi juga salah satu yang terbesar dan memiliki koleksi ribuan keturunan dinosaurus tersebut di penangkaran.

Crocodile Farm Jong dikelilingi hutan
alam dimana kebanyakan hewan hidup bebas. Sebuah pemandangan yang tidak saja menggoda para turis, tetapi juga fotografer yang menyukai konsep nature .

Di bangunan utama rumah pengunjung  dapat melihat fosil rahang buaya raksasa yang bernama Bujang Senang. Di Sarawak  Bujang Senang  bukan cuma sejarah, tetapi juga legenda yang mendirikan bulu roma. Kalau di Mempawah kita  bisa mendengar kisah buaya kuning yang kerap nongol di Muara. 
Konon  Bujang Senang adalah jelmaan seorang jagoan Iban yang dikutuk menjadi buaya. Bujang Senang juga balik bersumpah akan membunuh semua keturunan yang membunuhnya.  Buaya raksasa ini dituduh telah membunuh lebih dari 100 penduduk desa sekitar Sri Aman dan Sungai Batang Lupar. Banyak yang percaya Bujang Senang masih hidup hingga sekarang, ada pun yang dipajang dimusium hanyalah replika.  Para ahli mencatat ada 21 spesies buaya yang tersebar di perairan dunia.  Mereka dikelompokan ke dalam tiga keluarga yaitu, Alligatoride, Crocidildae dan Gavialidae. Nah Bujang senang rupanya adalah jenis Crocodylus porosus.  
Saya berhenti agak lama di depan rahang reptile raksasa itu, karena dalam tabung kaca pengaman fosil tersebut berserakan banyak uang rupiah pecahan seribu dan 10 ribuan bersama ringgit dan mata uang lainnya. “Wahlah, ada orang Indonesia yang mencari hajat ke tempat ini rupanya..he..he…”.
Mengapa Kalbar yang memiliki sungai terpanjang di Indonesia, memiliki Danau Sentarum yang luas, mempunyai ribuan mitos tentang buaya, punya dinas pariwisata juga, tapi tak bisa membuat wisata buaya?  Sebelum pulang aku menoleh sekali lagi ke kolam, di dalam sana mata buaya mengancam dingin, dengan gigi runcing tajam.  Ekornya  masih memukul-mukul air, menggodaku sekali lagi menghunus kamera. Klik, klik, klik!
Jum pulang, buaya darat Pontianak,”.
“Sialan lu….,” kata ku sambil menonjok Matthew. Dia ngacir berusaha mengelak sambil ketawa ngakak. (bersambung) 

What People Say About Us.

"On the Windows talking painted pasture yet its express parties use. Sure last upon he same as knew next. Of believed or diverted no."

Mike Taylor
Mike Taylor
Lahore, Pakistan

"Mering made our family trip to Europe absolutely magical! Every detail was perfectly planned. I could not believe how seamless the entire experience was from booking to arrival."

Sarah Johnson
Sarah Johnson
New York, USA

"The best travel agency I have ever worked with. Professional, responsive, and they truly understand what makes a trip unforgettable. Highly recommend to everyone!"

Chris Thomas
Chris Thomas
Artistic Vision Documentation
Select Language