Arsitek Narasi

Arsitek Narasi Strategis untuk Pemimpin Industri.

Perusahaan Anda memiliki data, tetapi apakah ia memiliki jiwa? Kami mengekstraksi sejarah perusahaan Anda dan merancangnya menjadi warisan narasi yang abadi.

The Paradigm

Di dunia bisnis yang bising dan dipenuhi data dingin, narasi Anda adalah api hangatnya. Mering Legacy Studio tidak merakit buku sebagai komoditas, melainkan merancang instrumen prestise dan makna.

Alexander Mering Founder & Narrative Architect
Alexander Mering - Founder

We Offer Best Services

Soul Mining

Archeological excavation uncovering raw, authentic leadership core and corporate truths.

Strategic Architecture

Engineering profound plot blueprints to align historic truth with business.

Media Deployment

Transmuting uncovered histories into premium masterpiece books and cinema documentaries.

Legacy Activation

Embedding timeless corporate narratives into organizational culture and global reputation.

In 3 Strategic Steps

Choose Destination

Define your architectural vision and identify the buried historical truths of your empire.

Make Payment

Initiate your premium investment to secure elite positioning across global media platforms.

Reach Airport on Selected Date

Deploy your masterpiece transmedia assets to claim your rightful place in history.

The Corporate Manifesto

The Corporate Manifesto

Completed in 3-6 Months | by Alexander Mering
1 Enduring Masterpiece

Sutradara Peraih Oscar Ajari Warga Loncek Ambawang Buat Film Dokumenter

Photo by Edi Nawang
KUBU RAYA   - Tulisan para blogger dari Kampung Loncek, Kecamatan Sungai Ambawang, membawa dua sutradara peraih Festival Film Berlin dan Oscar dari Amerika Serikat, tertarik menemui para pemuda dan masyarakat di sana. Itu semua karena tulisan, foto, dan video yang diposting di internet yang dilakukan mereka. Suatu catatan sejarah tak terlupakan, warga Kampung Loncek belajar bikin film dokumenter dari kedua sutradara tersebut.
 
Kehadiran Rechard Pearce dan Freida Mock, Minggu (9/2/2014) siang, menjadi sangat spesial bagi masyarakat Kampung Loncek. Sebagian masyarakat tak sabar menunggu kemunculan keduanya beserta Asisten Atase Kebudayaan Kedubes Amerika Serikat, Sylvie Young, dan Dekan Administrasi Perfilman, Universitas of Southern School of Cinematic Arts. Kegiatan itu juga bekerjasama dengan Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara (YPPN). Kedatangan rombongan pekerja film itu, disambut dengan tarian dan tabur beras kuning.
Tribun Pontianak bersama dengan bersama rekan jurnalis lain dari media nasional berbahasa Inggris, Indonesia, dan media cetak lokal, tampak antusias melihat prosesi adat dengan tarian topeng menyertai kedua sutradara tersebut, masuk ke ruang gereja Katolik.
 
Selama proses ritual penyambutan, dengan handycamnya, Rechard Pearce mendokumentasikan potong bambu sampai iringan tarian. Begitu pula dengan Freida Mock. Lensa handycam di tangan kanannya, merekam ekspresi dan gerak tubuh warga yang menyambut kehadirannya.
 
Bagi Inisiator Program Loncek, Alexander Asriyadi Mering, kehadiran kedua sutradara itu, ibarat mimpi menjadi kenyataan. Matanya berbinar. "Inilah kekuatan jurnalisme. Siapa sangka kedua sutradara itu bisa ke kampung ini yang dulunya terisolir. Tulisan yang dibuat para blogger kampung di internet menjadi bukti para sutradara handal Amerika Serikat ini," kata Mering.
 
Alumni peraih beasiswa International Visitor Leadership Program (IVLP) dari Amerika Serikat ini menuturkan, sekarang kampung Loncek mudah diakses, seperti layanan internet. Naming, tantangan pekerjaan rumah ke eepan, menurut Mering adalah dengan mengajar muda-mudi belajar bahasa asing. Terutama bahasa Inggris.
 
"Pe-er saya ke depan ingin melatih mereka dengan bahasa Inggris sederhana. Mereka sudah mampu menulis, mau dengan bahasa Indonesia, yang mau bahasa kampung juga boleh," ujarnya. Mering merupakan manager program pemberdayaan remaja putus sekolah di kampung itu. Dia mengorganisir pemuda-pemudi di sana bisa nulis buku dan bikin bibit karet unggul.
 
Rechard dan Freida menuturkan senang dengan sambutan tarian warga Kampung Loncek. Mereka senang bisa datang langsung melihat para pemuda putus sekolah yang bisa menulis buku. "Saya terkejut dalam arti senang karena berada di tempat ini. Kami datang ke sini ingin mengajar mereka bikin film lewat smartphone," kata Rechard soerang sutradara, penulis naskah, dan seorang sinematografi ini.
 
Loncek, menurut Rechard memiliki banyak isu modern terutama terkait pembukaan lahan kelapa sawit oleh korporasi besar dan tekanan pemerintah. Isu-isu itu harus bisa menjadi film dokumenter. "Berita bagus bahwa ada anak muda menulis dan dipublikasi di internet. Sekarang mereka belajar bikin film. Sayang waktu saya bikin film sedikit," tuturnya berharap, anak-anak muda di Kampung Loncek tetap tak kehilangan harapan.
 
Freida Mock juga mengucapkan kegembiraan bisa berbagi ilmu mengambil teknik film dengan smartphone, kepada para ibu. "Kita ingin memberdayakan para perempuan di sini. Dengan alat sederhana, bisa bikin film dengan mengidentifikasi ide-ide menjadi kenyataan," ucap peraih Oscar 2010 ini.
 
Bagi Slyvie Young, pembuat film di atas, mau mengajarkan langsung membuat film supaya masyarakat memiliki kesadaran tentang isu sosial di sekitarnya. Sylvie yakin bahwa film memiliki kekuatan penyadaran.
 
Seorang blogger dan editor buku Loncek Baguas, Laurensius Edi, tak menyangka Rechard Pearce dan Freida Mock datang ke kampungnya. Dengan kedatangan kedua sutradara tersebut ke kampungnya, harapan kawan-kawannya memiliki pengetahuan menulis dan bisa bikin film dokumenter semakin meningkat.
 
Dengan program menulis, sebagai upaya memberdayakan basis lahan pertanian yang mereka miliki. Sekarang masyarakat Loncek bisa belajar langsung bikin film dengan ahlinya. "Dulu kami tinggal berbulan-bulan di hutan. Sekarang kami tinggal kan hutan dan mulai beroganisasi tidak membalak hutan lagi. Sekarang 20 anggota peserta memiliki setengah hektar pohon karet," ucapnya.
 
Sumber: http://pontianak.tribunnews.com/2014/02/10/sutradara-peraih-oscar-ajari-warga-loncek-ambawang-buat-film-dokumenter

What People Say About Us.

"On the Windows talking painted pasture yet its express parties use. Sure last upon he same as knew next. Of believed or diverted no."

Mike Taylor
Mike Taylor
Lahore, Pakistan

"Mering made our family trip to Europe absolutely magical! Every detail was perfectly planned. I could not believe how seamless the entire experience was from booking to arrival."

Sarah Johnson
Sarah Johnson
New York, USA

"The best travel agency I have ever worked with. Professional, responsive, and they truly understand what makes a trip unforgettable. Highly recommend to everyone!"

Chris Thomas
Chris Thomas
Artistic Vision Documentation
Select Language