Tentang Buku Seringai Kunang-kunang
Di balik nama
pena Wisnu Pamungkas, tersembunyi tangan seorang arsitek narasi bernama
Alexander Mering, penulis yang telah menghasilkan lebih dari lima puluh buku
lintas genre. Durian Cinta, kumpulan sebelas cerpen yang terbit lewat penerbit
Asiaglobe, Yogyakarta pada akhir 2025, menjadi salah satu bukti bagaimana
kepekaan naratif dapat mengubah luka sosial, sengketa tanah adat, dan
pergulatan identitas menjadi karya sastra yang bertahan lintas zaman.
Tentang Proyek: Durian Cinta memuat sebelas cerita pendek dan satu epilog, dicetak dalam
format saku berukuran 11 x 18 sentimeter setebal xvi + 200 halaman. Sejumlah
cerita dalam buku ini bukan karya baru semata. Beberapa di antaranya pernah
dimuat di media cetak sejak akhir 1990-an, termasuk koran Akcaya yang kini
menjadi Pontianak Post pada 1998, Majalah Jendela Sarawak Malaysia pada 2004,
dan rubrik sastra Harian Borneo Tribune pada 2009, sebelum akhirnya disatukan
dan diterbitkan ulang sebagai satu kesatuan naratif oleh Asiaglobe.
Peran Sang
Arsitek Narasi: Dalam proyek ini, Alexander Mering mengambil
peran ganda: sebagai penulis di balik nama pena Wisnu Pamungkas, sekaligus
sebagai perancang sampul buku. Dwiperan sebagai penulis sekaligus perancang
visual ini mencerminkan pendekatan menyeluruh seorang narrative architect, yang
tidak berhenti pada teks semata, tetapi juga menjaga bagaimana sebuah cerita
pertama kali disentuh secara visual oleh pembaca.
Kekuatan Konsep
dan Tema: Judul Durian Cinta dipilih sebagai metafora
sentral, buah yang tajam di luar dan sering ditolak sebelum dicicipi, namun
menyimpan rasa yang tak tergantikan bagi mereka yang berani mendekat. Metafora
ini menaungi sebelas kisah yang mempertemukan cinta dengan kekuasaan, mitos,
agama, negara, dan alam, termasuk kisah yang menyentuh akar identitas Dayak,
seperti kerinduan pada tanah leluhur dan tembawang yang diwariskan lintas
generasi. Alih-alih menawarkan romantisme yang jinak, buku ini menghadirkan
cinta sebagai sesuatu yang politis sekaligus spiritual, sejalan dengan jejak
panjang Alexander Mering dalam menulis isu inklusi sosial, masyarakat adat, dan
lingkungan hidup.
Jejak dan
Pengakuan: Salah satu cerita dalam buku ini, Tembawang di Bawah
Bulan, turut menjadi bagian dari Antologi Cerpen Tembawang yang diterbitkan
Literasi Dayak pada 2025. Hal ini memperkuat posisi Durian Cinta sebagai bagian
dari ekosistem literasi Dayak yang terus dirawat oleh Alexander Mering,
termasuk melalui pendirian Lembaga Sastra Dayak bersama sastrawan Malaysia Jaya
Ramba.
Mengapa Studi
Kasus Ini Relevan bagi Anda: Durian Cinta
menunjukkan kapasitas Alexander Mering dalam mengolah pengalaman personal,
sejarah sosial, dan identitas budaya menjadi narasi yang koheren dan bertahan
lama, kapasitas yang sama yang diterapkan ketika ia menyusun narasi legacy,
biografi profesional, maupun dokumen strategi komunikasi untuk tokoh publik dan
organisasi. Bagi calon klien yang membutuhkan penyusunan narasi dengan
kedalaman emosional sekaligus presisi strategis, proyek ini menjadi salah satu
rujukan konkret atas pendekatan tersebut.
Untuk
mendiskusikan bagaimana pendekatan narrative architecture ini dapat diterapkan
pada proyek personal branding, biografi, maupun komunikasi korporat Anda,
silakan hubungi Alexander Mering melalui laman kontak di website ini.
