Tentang Garuda
Ada proyek
penulisan yang sekadar merangkai kata, dan ada proyek yang menuntut penulisnya
menjadi arsitek narasi sekaligus periset lapangan lintas budaya. Garuda, buku
yang saya tulis bersama penulis pendamping Dessy Rizky dan editor Satmoko Budi
Santoso, termasuk dalam kategori kedua. Buku ini mendokumentasikan perjalanan
kreatif Nyoman Nuarta, maestro pematung Indonesia, melalui dua karya
monumentalnya: Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali dan bangunan berbentuk siluet
garuda pada Istana Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ketika Seniman Legendaris Mempercayakan
Kisahnya kepada Penulis
Nyoman Nuarta
dan istrinya, Cynthia Laksmi, mempercayakan penulisan proyek ini kepada tim
saya. Ini bukan sekadar pekerjaan menulis biografi. Sang maestro secara
eksplisit meminta agar buku ini tidak menjadi biografi konvensional yang
mencatat seluruh perjalanan hidupnya. Fokusnya adalah proses kreatif di balik
dua karya besar yang menyandingkan identitas personal seorang seniman dengan
simbol negara: burung Garuda.
Tantangan
awalnya sederhana namun berat, yaitu bagaimana menghadirkan sosok publik yang
sudah dikenal luas dengan cara yang belum pernah diceritakan sebelumnya, tanpa
jatuh ke dalam narasi pujian yang datar atau liputan media yang sudah berulang
kali dibaca publik.
Tantangan: Merangkai Mitos, Sejarah, dan
Simbol Negara dalam Satu Narasi
Kompleksitas
proyek ini terletak pada lapisan-lapisan cerita yang harus dirangkai menjadi
satu kesatuan yang koheren, meliputi:
- Mitologi lintas etnis: kisah garuda dalam tradisi lisan masyarakat adat Paser, Dayak, dan Suku Balik di Kalimantan Timur, disandingkan dengan narasi garuda dalam kebudayaan Hindu Bali tempat Nyoman Nuarta lahir dan dibesarkan.
- Jejak sejarah bangsa: mulai dari prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai Martadipura, hingga proses perancangan Lambang Negara Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II pada 1950.
- Isu kontemporer yang sensitif: pembangunan IKN sebagai proyek ibu kota baru yang masih menjadi perbincangan publik, lengkap dengan dinamika sosial masyarakat adat setempat.
- Kedalaman riset akademis: buku ini akhirnya memuat lebih dari 180 catatan kaki yang merujuk pada tesis akademik, arsip berita, dan wawancara narasumber primer.
Menyatukan
keempat lapisan tersebut dalam satu alur yang mengalir, tanpa kehilangan
akurasi faktual maupun kedalaman emosional, adalah inti dari tantangan
strategis proyek ini.
Pendekatan Naratif: Riset Lintas Wilayah
dan Struktur Tujuh Babak
Saya merancang
buku ini dalam struktur tujuh bagian besar, mulai dari kisah masyarakat adat di
Paser Utara, perjalanan masa muda Nyoman Nuarta di Tabanan, filosofi di balik
karya-karyanya, hingga takdir yang mempertemukannya dengan proyek IKN.
Pendekatan ini memungkinkan pembaca menyusuri jejak sang maestro secara
kronologis sekaligus tematik.
Proses
penulisan melibatkan riset lapangan dan wawancara narasumber di berbagai
lokasi, dari kampung adat di Kalimantan Timur hingga workshop dan NuArt
Sculpture Park milik Nyoman Nuarta. Setiap fragmen cerita rakyat, catatan
sejarah, dan kutipan wawancara diverifikasi silang agar buku ini kredibel
dibaca oleh kalangan akademisi maupun masyarakat umum.
Hasil Akhir: 304 Halaman yang Menyatukan
Bali, Kalimantan, dan Jakarta
Garuda terbit
pada Agustus 2024 dalam cetakan pertama berbahasa Indonesia, setebal 304 halaman, diterbitkan oleh Yayasan Cyntia dan Nuarta, hard cover, ukuran 20 x 28,7 cm. ISBN 987-634-04-3061-5. Buku ini menghadirkan potret utuh proses kreatif Nyoman Nuarta
sebagai seniman dan seorang manusia, sekaligus menempatkan karya-karyanya dalam
konteks sejarah panjang simbol Garuda di Nusantara, dari era Kerajaan Kutai
hingga era Ibu Kota Nusantara (IKN).
Nilai Strategis bagi Klien: Legacy
Narrative untuk Tokoh dan Institusi
Bagi tokoh
publik, pemimpin perusahaan, maupun institusi, proyek semacam ini membuktikan
bahwa sebuah buku dapat menjadi instrumen legacy narrative, yaitu dokumentasi
jangka panjang yang menempatkan pencapaian personal dalam konteks yang lebih
besar, baik konteks budaya, sejarah, maupun kepentingan bangsa. Buku bukan
sekadar kenang-kenangan, melainkan aset komunikasi yang memperkuat posisi
seorang tokoh di mata publik, mitra bisnis, maupun generasi berikutnya.
Pengalaman
menulis Garuda menegaskan kemampuan saya dalam menerjemahkan riwayat hidup
tokoh besar, sejarah bangsa, dan isu strategis nasional menjadi satu narasi
yang utuh, akurat, dan enak dibaca.
Mengapa Memilih Alexander Mering untuk
Buku Naratif Anda
Sebagai
penulis profesional dengan latar belakang jurnalistik, penelitian, dan
penulisan sastra, saya memahami bahwa setiap tokoh dan setiap perusahaan
memiliki cerita yang layak didokumentasikan dengan standar riset dan kualitas
naratif setinggi ini. Apabila Anda sedang mempertimbangkan proyek penulisan
buku biografi, buku korporat, atau dokumentasi legacy serupa, saya terbuka
untuk mendiskusikan bagaimana pendekatan ini dapat diterapkan pada kisah Anda.