Kumpulan Puisi Seringai Kunang-kunang
Selama dua puluh
lima tahun, satu simbol kecil bertahan konsisten dalam ribuan puisi yang
ditulis Alexander Mering lewat nama pena Wisnu Pamungkas: kunang-kunang.
Seringai Kunang-Kunang, antologi puisi yang diterbitkan Allsysmedia, Bogor pada
Mei 2022, merangkum 148 puisi terpilih dari ribuan naskah yang ia tulis sejak
dekade 1990-an, dan menjadi salah satu bukti paling kuat bagaimana konsistensi
tematik dapat membangun daya tarik naratif jangka panjang.
Tentang Proyek: Seringai Kunang-Kunang terbit dengan ISBN 978-623-97544-6-4, setebal xx
+ 172 halaman berukuran 15 x 21 sentimeter, diterbitkan oleh Allsysmedia yang
merupakan anggota IKAPI. Naskah dikurasi oleh Maharani Mega Sari dari ribuan
judul puisi yang ditulis Wisnu Pamungkas sejak akhir 1990-an hingga 2021, lalu
disusun menjadi dua bagian besar, Repertoar dan Seringai, tanpa mengikuti
urutan kronologis penulisan.
Peran Sang
Arsitek Narasi: Sejalan dengan proyek-proyek kepenulisan lain
Alexander Mering, dalam buku ini ia kembali mengambil peran ganda: sebagai
penulis di balik nama pena Wisnu Pamungkas, sekaligus sebagai perancang sampul
buku. Konsistensi peran ini menegaskan pendekatan seorang narrative architect
yang membangun identitas karya secara utuh, mulai dari kedalaman teks hingga
wajah visual yang pertama kali menyapa pembaca.
Kekuatan Konsep
dan Tema: Cikal bakal antologi ini dapat ditelusuri hingga
sebuah komitmen kepenulisan yang dicanangkan Alexander Mering pada 1996, yaitu
menulis satu puisi setiap hari. Konsistensi itu membuahkan lebih dari 365 judul
puisi dalam setahun pada masa-masa awal proses kreatifnya, dan simbol
kunang-kunang tetap menjadi benang merah yang bertahan lintas tempat dan waktu,
mulai dari pelosok Papua, Sumba, Kalimantan, dan Mentawai, hingga kota-kota di
luar negeri. Simbol kunang-kunang sendiri dipilih karena kekayaan maknanya lintas
budaya, termasuk kaitannya dengan tradisi masyarakat Dayak Iban yang memandang
kunang-kunang sebagai penuntun perjalanan spiritual, sehingga antologi ini
sekaligus menjadi jembatan antara pengalaman personal, jejak profesinya sebagai
jurnalis dan pekerja sosial, serta akar budaya Dayak yang melekat pada dirinya.
Jejak dan
Pengakuan: Antologi ini dibuka dengan prolog dari Zainal
Abidin Suhaili atau Abizai, penerima SEA Write Award 2017 dari Malaysia
sekaligus Sasterawan Negeri Sarawak 2020, yang menguraikan bagaimana Wisnu
Pamungkas mengolah kata, imaji, dan pengalaman menjadi puisi yang mendalam.
Buku ini turut mendapat apresiasi dari jajaran tokoh sastra dan media di
Indonesia maupun Malaysia, di antaranya novelis dan cerpenis budaya Malaysia
Jaya Ramba, jurnalis senior Malaysia James Ritchie, penulis Sarawak dan alumni
MASTERA Frankie Latit, editor Suara Sarawak Radin Azhar Ahmad, penyair Isbedy
Stiawan ZS, akademisi Algooth Putranto, serta penulis best-seller Bernard
Batubara. Rentang apresiasi lintas negara ini memperkuat posisi Wisnu
Pamungkas, dan karenanya Alexander Mering, sebagai suara sastra yang
diperhitungkan di kedua sisi Borneo.
Mengapa Studi
Kasus Ini Relevan bagi Anda: Seringai
Kunang-Kunang membuktikan kemampuan Alexander Mering menjaga satu benang merah
naratif secara konsisten selama puluhan tahun lintas ratusan karya, sekaligus
mengemasnya menjadi satu kesatuan yang koheren dan mampu menembus apresiasi
lintas negara. Kapasitas menjaga konsistensi pesan dalam jangka panjang inilah
yang relevan bagi calon klien yang membutuhkan narasi legacy atau identitas
naratif yang harus bertahan dan tetap dikenali dari waktu ke waktu.
Untuk
mendiskusikan bagaimana pendekatan narrative architecture ini dapat diterapkan
pada proyek personal branding, biografi, maupun komunikasi korporat Anda,
silakan hubungi Alexander Mering melalui laman kontak di website ini.
